Baik Tidak Mesti Diterima

Baik Tidak Mesti Diterima
Baik Tidak Mesti Diterima | Seorang guru yang baik sebenarnya memiliki makna yang relatif. Tergantung dari sudut mana seorang siswa memandang kepribadian guru pengajarnya. Menjadi guru yang baik tentu bukanlah hal yang sulit. Namun, akan lebih sulit menjadi guru yang dapat diterima dan dicintai oleh siswa. Selalu mengajar tepat waktu dan jarang absen sudah dapat dikatakan guru yang baik. Tetapi, apakah itu berarti siswa sudah dapat menerima guru tersebut? Tentu jawabannya tidak.


Pengalaman mengajar seorang guru belum menjadi tolak ukur seorang guru dapat diterima dan dicintai oleh siswa-siswinya. Kurangnya keterbukaan antara guru dan siswa terkadang mengakibatkan pada ketidakpuasan siswa pada sistem pengajaran yang diterapkan dan berujung pada ketidaktertarikan siswa untuk mempelajari pelajaran yang diterangkan oleh guru tersebut.

Tak ada asap kalau tak ada api. Suatu guru menjadi kurang dicintai oleh seorang siswa tentu disebabkan oleh banyak faktor. Pada dasarnya, remaja ingin dilibatkan. Maka dari itu, seorang tenaga pengajar hendaknya merancang pelajaran yang komunikatif. Kuis ringan yang sifatnya fun tentu menjadi cara yang ampuh untuk kembali menyegarkan konsentrasi siswa yang mulai berkurang.

Mengajak siswa untuk bersama-sama memecahkan soal ketika dibahas dapat menjadi cara komunikatif lainnya. Memberikan siswa berusaha memecahkan soal berdasarkan analisisnya tentu menjadi hal yang cukup membangkitkan semangat. Guru sendiri sebenarnya hanya menjadi fasilitator saat proses pembahasan soal mengalami kendala. Dibandingkan dengan guru yang seperti asyik sendiri saat memecahkan soal, tentu cara ini terbilang cukup bijaksana dan tepat.

Terkadang, pengalaman seorang guru dalam mengajar sering menjadi pisau bermata dua. Mengapa demikian? Karena, pengalaman mengajar tidak hanya membawa dampak positif pada gaya mengajar seorang guru namun juga dampak negatif. Dampak positifnya tentu pengalaman yang lebih, seorang guru dapat dikatakan sudah menguasai penuh materi yang akan ia terangkan. Terlebih, guru bidang studi yang notabene mengajar satu mata pelajaran.

Dampak negatifnya, tak jarang seorang guru menjadi kurang terbuka pada siswa. Tak sadar ketidakterbukaan memupuk sikap ego akan pendapat dan pemikiran diri sendiri. Hal ini tidaklah tepat dimiliki oleh seorang pengajar. Sejatinya, seorang pengajar justru harus mampu membuka dan menstimulasi seorang siswa untuk membuka pikiran dan keberanian berpendapat.

Seorang pengajar juga seorang manusia biasa yang tak luput akan kesalahan. Maka, dukungan pendapat siswa-siswi saat belajar saat terjadi kesalahan tentu tidak hanya berakibat pada kepribadian guru yang dicintai, namun juga terciptanya suasana kelas yang lebih akrab dan tentunya komunikatif.

Membangun suasana akrab pada saat proses belajar mengajar juga dapat diselingi dengan humor dan bermain. Karena, dengan tertawa seorang siswa secara tak langsung kembali memusatkan perhatiannya pada guru tersebut. Selain itu, suasana belajar yang tadinya kaku, dapat kembali nyaman. Selingan seperti permainan yang masih terkait dengan mata pelajaran yang akan diajarkan, tentu dapat menjadi cara yang menyenangkan bagi siswa dan juga guru. Belajar sambil bermain ini dapat merangsang otak siswa yang sudah jenuh untuk kembali berpikir dalam keadaan yang kondusif. Tak masalah jika sejenak kelas menjadi sedikit gaduh, apabila diakhir permainan guru memberikan evaluasi kecil serta kesimpulan dan manfaat dari permainan yang diberikan.

Misalnya, pada saat pelajaran bahasa inggris, guru membagi siswa dalam beberapa kelompok kecil untuk permainan teka-teki grammar. Seorang guru dapat menyajikan beberapa kalimat dan siswa harus menebak kalimat mana yang disusun berdasarkan grammar yang kurang tepat beserta alasan secara tepat. Kelompok yang dapat menjawab diberikan point. Maka, akan terbangun suasana kompetisi sehat antara siswa untuk menjadi yang terbaik. Namun, pelajaran tetap dapat diterima dan tersampaikan dengan baik.

Yang tak kalah pentingnya, guru sebaiknya dapat bekerjasama dengan siswa. Misalnya, saat memberikan tugas kepada siswa dengan batas waktu tertentu, ada baiknya guru mempertimbangan pendapat siswa-siswinya terhadap batas waktu tersebut. Dalam diskusi tentang batas waktu pengumpulan tugas, guru dan siswa akan menemukan mufakat. Secara, tak langsung siswa akan merasa lebih bertanggung jawab akan tugas yang sudah menjadi kewajibannya karena waktu pegumpulan tugas yang sudah disetujui dan bukan keputusan sepihak oleh guru.


Selain mengajar, seorang guru juga merupakan seorang pendidik. Tak ayal, pendidikan yang bersifat normatif bukan hanya kewajiban seorang guru bimbingan konseling, namun juga semua guru bidang studi. Tak ada salahnya, dalam suatu suasana belajar, guru tetap memberikan intermezzo pendidikan normatif. Namun, tentunya tetap fokus pada bidang studi yang diajarkan.

Maka, dapat disimpulkan bahwa remaja sejatinya selalu ingin merasa dilibatkan dan berkomunikasi. Dengan sikap terbuka antar guru dan siswa, tentu dapat memotivasi siswa untuk lebih merasa penasaran terhadap suatu pelajaran.

Rasa penasaran ini akan menimbulkan keinginan belajar siswa. Selain itu, paradigma seorang guru yang tak bersahabat secara perlahan akan semakin terkikis. Sehingga, siswa akan mudah mencintai pribadi gurunya yang berdampak kepada minat belajar siswa itu sendiri.
Share This :